Frieska JKT 48

Frieska JKT 48by mami doraon.Frieska JKT 48Frieska JKT 48 Frieska perlahan-lahan sadar dari pingsannya, tetapi yang dilihatnya hanya kegelapan. Dia meronta, tetapi tangan dan kakinya terikat. Tiga detik kemudian dirinya sadar bahwa tangan dan kakinya diikat pada kursi yang didudukinya, serta mata dan mulutnya ditutup oleh kain. ”Apa aku diculik?” tanya Frieska dalam hati dan mulai mengingat bagaimana dia sampai terikat […]

10994943_865133613542724_7660136164821636246_n

Frieska JKT 48

Frieska perlahan-lahan sadar dari pingsannya, tetapi yang dilihatnya hanya kegelapan. Dia meronta, tetapi tangan dan kakinya terikat. Tiga detik kemudian dirinya sadar bahwa tangan dan kakinya diikat pada kursi yang didudukinya, serta mata dan mulutnya ditutup oleh kain.

”Apa aku diculik?” tanya Frieska dalam hati dan mulai mengingat bagaimana dia sampai terikat seperti itu.

Saat itu jam sekolah telah berakhir. Frieska berjalan pulang setelah membersihkan kelas bersama teman-temannya. Lalu di tengah jalan, dia mengetahui bahwa bukunya tertinggal di kelas. Frieska kembali ke kelasnya sendirian untuk mengambilnya, namun sial, saat berada di kelas sendirian tiba-tiba dari arah belakang ada tangan yang mendekapnya dan sesuatu yang menyengat terhirup oleh hidungnya. Detik itu juga dia tidak sadarkan diri.

Frieska mulai meronta lagi, tetapi ikatan pada kursi itu terlalu kuat. Lalu dia mendengar langkah seseorang mendekat dan berhenti di belakangnya. Kemudian putri merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya. Frieska yang ketakutan memberontak, namun usahanya sia-sia belaka.

Tangan di kedua bahu Frieska itu mulai turun dan menyentuh dadanya. Seketika Frieska mengerti apa yang akan dilakukan kedua tangan itu pada dadanya. Dia meronta sekuat tenaga untuk menyingkirkan tangan nakal itu, tetapi tangan itu tetap di sana dan malah menari-nari.

Tangan itu tiba-tiba berhenti dan menghilang setelah Frieska diam membiarkan tangan itu bermain. Frieska bernafas lega, namun sesaat kemudian sebuah ciuman mendarat di pipinya. Ciuman itu singkat, namun Frieska merasa ciuman itu tidak asing lagi bagi dirinya. Frieska mencoba mengingat ciuman itu, tetapi sebelum dia selesai, penutup mulutnya dilepas. Lalu sebuah suara yang teredam sapu tangan terdengar di telinganya.

“Kamu suka permainan singkatku, Fries?” tanya orang itu.

“Siapa kamu dan apa maumu?” geram Frieska sambil berusaha menebak, itu suara laki-laki atau perempuan. “Cepat lepaskan aku!” teriaknya.

Seketika itu, dua tangan si penyekap kembali mendapat di dadanya. Frieska berusaha memberontak, tetapi tetap sia-sia, malah tangan itu semakin kasar bermain. “Fries, jika kamu tidak menjawab pertanyaanku, aku akan melanjutkan permainan ini lebih jauh lagi,” ujar suara itu lagi, Frieska merasa seperti pernah mendengarnya.

“Baiklah,” seru Frieska yang mulai merasa tidak nyaman pada bagian dadanya. “Singkirkan dulu tanganmu!” pintanya.

Setelah tangan itu menyingkir dari dadanya, Frieska pun menjawab. “Aku tidak suka!”

“Kenapa?” tanya orang itu lagi.

“Itu namanya pelecehan seksual!”

“Lalu, bagaimana dengan para mantan pacarmu, bukankah mereka melakukan hal yang sama seperti tadi?”

Bagaimana dia tahu? Frieska mulai merasa orang yang menculiknya adalah mantan pacarnya. Tetapi ketika dirinya ingat bahwa semua mantan pacarnya memutuskannya, bukan dirinya yang memutuskan, perkiraan itu meragukan. Semua mantan pacarnya tidak ada yang dendam padanya, tetapi dirinyalah yang menaruh dendam pada mereka.

“Fries, kenapa kamu bilang aku melakukan pelecehan? Sementara ketika mantan-mantanmu melakukannya, kamu merasa sangat senang,” ujar suara itu lagi.

Frieska tidak menjawab, dia masih memikirkan siapa orang yang telah menculiknya itu. Lalu tiba-tiba, tangan penculik itu meraba pahanya dan menyingkap rok seragamnya. Tangan penculik yang lembut itu menari-nari di kulit pahanya, mulai dari lutut hingga pangkal paha.

“Hentikan!” teriak Frieska, lalu tangan itu hilang di permukaan kulitnya.

“Kenapa, Fries? Apa itu juga pelecehan seksual.”

“Ya,” jawab Frieska ragu-ragu, takut untuk menjadi tegas yang akan memperburuk kondisinya.

“Lalu, bagaimana dengan semua mantan pacarmu yang melakukan hal yang sama seperti tadi, disebut pelecehan seksual kah?”

“Bukan!”

“Lalu, apa?” tuntut suara itu meminta jawaban.

“Karena saat bersama pacarku, aku melakukannya suka sama suka, tidak ada pihak yang dipaksa!”

“Bisakah kamu bersikap agar aku tidak perlu memaksamu?” tanya suara itu.

Frieska diam, berpikir. Apa yang harus dikatakannya dan apa akibatnya nanti baginya, atau bagi tubuhnya.

“Fries, bisakah kamu bersikap agar aku tidak perlu memaksamu?” tanya suara itu meminta jawaban segera.

“Bisakah kau membuka penutup mataku, agar kita bisa saling berbicara dengan nyaman?”

Beberapa detik tidak ada jawaban, namun secara tiba-tiba penutup matanya dibuka. Frieska mencoba melihat dengan matanya yang buram karena air mata. Ketika pandangan matanya mulai jernih, dia dapat melihat sesosok tubuh sedang berdiri di depan. Bentuk tubuh itu dikenalnya, tetapi dia kurang yakin karena pandangan matanya masih buram oleh airmata. Sosok itu mendekat dan memegangi pipinya.

Perlahan tapi pasti mata Frieska mulai jernih dan dia dapat melihat wajah mungil di depannya. Wajah mungil itu dibingkai dengan rambut pendek sebahu dengan poni indah yang bertengger manis di dahi, serta sebuah bibir kecil berwarna merah yang mempercantik bentuk wajah itu.

Frieska terbelalak saat mengenali wajah siapa itu dan menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “I-Icha…” ujar Frieska hampir tidak bersuara, ia merasa begitu terguncang.

“Aku sangat mencintaimu, Fries,” ujar Icha seraya mencium kening Frieska, “tetapi kamu telah menyiksa dan menambah noda pada tubuhmu sendiri dengan merekalannya disentuh para laki-laki bejat itu,” lanjut Icha lalu bibirnya turun untuk menyentuh bibir Frieska yang tipis.

“Cha… kenapa…?” tanya Frieska setelah bibir Icha terangkat sedikit.

“Aku sangat mencintaimu, Fries,” ujar Icha lagi dengan wajah sayu, kemudian mencium bibir Frieska lagi. Saat Icha sudah melepas ciumannya, Frieska melihat wajah manis sahabatnya itu telah dipenuhi hasrat birahi yang begitu membara.

“Fries,” ujar Icha lembut seraya memandang ke bagian tubuh Frieska yang masih tertutup baju seragam. “Sebentar lagi aku akan memberimu kenikmatan seperti yang diberikan oleh para pemuda bejat itu pada bagian tubuhmu itu, tetapi setelah itu, aku akan tunjukkan bagaimana sebenarnya bagian tubuh itu rasakan saat disentuh oleh mereka.”

Frieska bergidik saat merasakan tangan Icha mulai bergerak kembali di atas gundukan payudaranya. Sekarang ia tidak memberontak atau pun berteriak seperti tadi, hanya diam membiarkan tangan Icha bermain-main disana. Frieska sadar, percuma melawan atau memberontak. Sekarang Icha lah yang berkuasa.

“Aku akan melakukannya denganmu, Cha.” ujar Frieska lirih, “tetapi lepaskan dulu ikatanku.”

“Apa jaminannya kamu tidak akan lari?” tanya Icha, pandangannya menyapu tubuh ramping Frieska penuh rasa lapar.

Frieska berpikir beberapa saat. Dia memang hendak kabur dan tidak berniat untuk melayani gadis itu, tetapi jika dia tetap diikat seperti ini, adakah kemungkinan dirinya bisa kabur? Ah, sepertinya tidak.

Sebelum Frieska berbicara lagi, bibirnya telah disumbat oleh bibir Icha yang mungil. Frieska diam saja tidak melawan, sementara Icha mulai mengeluarkan lidahnya. Beberapa lama diperlakukan seperti itu, Frieska pun jadi tidak tahan hingga akhirnya membalas ciuman gadis itu. Tetapi saat itu juga, ciuman yang dibalas Frieska menghilang dan digantikan sebuah tamparan keras di pipi kirinya.

“Apa-apaan kau ini!” teriak Frieska marah.

“Kamu benar-benar murahan, Fries,” ujar Icha dengan nada sendu daripada marah.

“Bukankah tadi kau yang mau itu?” tanya Frieska mulai bingung dengan tingkah laku penculiknya.

“Apa kamu akan melakukan sesuatu yang bisa mendapatkan kenikmatan bagi dirimu tidak peduli siapa yang memberikannya?” tanya Icha.

“Apa maksudmu?” Frieska bertanya tak mengerti.

“Para mantan pacarmu itu, bukankah mereka mengancam akan memutuskanmu jika kamu tidak mau tidur dengan mereka?” jelas Icha. “Setelah mereka bosan, dengan mudahnya mereka mencampakan dirimu seperti kotoran yang menjijikkan, bukan begitu, Fries?”

Frieska tidak dapat berkata-kata, pikirannya kacau. Kemudian dia merasakan elusan di rambutnya, kemudian turun ke dadanya. Icha mulai membuka satu persatu kancing seragamnya!

“Aku akan melakukannya tanpa paksaan,” ujar Frieska takut-takut dan tanpa memberontak seperti tadi.

Sesaat tangan Icha menghilang setelah berhasil membuka semua kancing baju seragamnya, lalu satu tamparan lagi terasa di pipi Frieska. Tamparan yang sekarang lebih keras dari yang tadi, bahkan sampai membuat Frieska merasakan darah keluar dari mulutnya bersamaan dengan air matanya yang meleleh perlahan. Frieska tidak dapat berkata-kata lagi. Dia semakin mengerut di kursinya saat berpikir bahwa Icha adalah orang yang mengidap sadisme.

“Fries, kenapa kamu merelakan tubuhnya semudah itu?” tanya Icha dengan nada sedih. “Kenapa tubuhnya yang sangat indah itu kamu relakan pada setiap pemuda bejat?” satu tamparan lagi diterima Frieska.

“Cepat lepaskan aku!” ujar Frieska tanpa berteriak, lebih ke arah memohon.

“Tidak, Sayang,” ujar Icha dengan nada manja.

Lalu Frieska merasakan sesuatu yang dingin di pipinya. Tidak perlu waktu lama bagi otaknya untuk membayangkan bahwa itu adalah sebuah pisau. Pisau itu dirasakan Frieska mulai turun ke lehernya dan meliuk turun hingga dia merasan pisau itu memotong tali kutangnya dan turun lagi ke perutnya. Saat itu dia merasakannya pisau itu merobek rok seragamnya. Frieska saat itu sadar, tubuhnya sudah terbuka semua kecuali pada bagian selangkangannya.

Namun itu juga tidak lama karena sesaat kemudian Frieska sudah merasakan celana dalamnya diiris lepas. Tajam sekali pisau yang dipegang oleh Icha, membuat Frieska jadi harus berpikir dua kali kalau mau menolak kemauan gadis itu. Kini Frieska sudah telanjang bulat seutuhnya. Tampak tubuh mudanya yang terikat tak berdaya di kursi. Kulitnya sungguh putih, juga begitu halus dan kencang. Payudaranya meski tidak begitu besar namun terlihat tegak menantang. Putingnya mungil kemerahan, terlihat imut sekali. Di sela-sela paha Frieska yang putih mulus, tampak rambut kemaluannya yang mulai tumbuh lebat. Kesanalah Icha mengedarkan pandangan.

”Kamu memang cantik, Fries.” kata gadis itu lagi sambil mencium bibir tipis Frieska dan meremas-remas tonjolan buah dadanya.

”Ehm,” Frieska mengerang, namun sama sekali tidak berniat untuk melawan. Akan ia ikuti saja keinginan Icha meski sangat bertentangan dengan hati kecilnya. Yang penting ia selamat.

Dengan perlahan-lahan Icha menanggalkan baju seragamnya hingga jadi sama-sama telanjang. Seperti Frieska, tubuhnya juga sangat halus dan mulus. Tonjolan payudaranya terIihat sedikit lebih besar, namun dengan warna puting yang lebih gelap. Rambut di kemaluannya tampak habis dicukur, membuat bibir kewanitaan Icha yang sudah basah jadi mengintip indah. Gadis itu memutar tubuhnya dan tersenyum pada Frieska.

“Dada kamu memang bagus, Fries. Biar tidak besar, tapi cukup kencang dan kenyal,” kata Icha sambil mulai meremas dan mempermainkan susu Frieska dengan jari-jemarinya yang lentik hingga membuat Frieska jadi bergetar kegelian. Apalagi saat mulut Icha mulai menghisap dan mengulum putingnya laksana seorang bayi yang kehausan, Frieska jadi semakin menggelinjang dibuatnya.

Setelah puas merambah payudara, tangan Icha turun ke bawah untuk meraba paha Frieska yang putih mulus. Ia juga menyodorkan payudaranya ke mulut Frieska, meminta untuk dikulum dan dijilat sementara dia mulai menyentuh bibir kewanitaan gadis itu.

”Ahh…” melenguh kegelian, Frieska melemas dan menengadah. Pelan ia mulai melumat tonjolan payudara Icha yang terasa kenyal dan lembut di dalam mulutnya, sambil lidahnya sesekali menyambar-nyambar putingnya yang mungil kemerahan seperti biji kacang dan menghisapnya rakus hingga jadi semakin menegang tak lama kemudian.

”Auhh…” sambil terus menggesek lembut lorong kelamin Frieska, Icha semakin memeluk erat hingga kedua payudara mereka saling bersentuhan sekarang. Ia menggesek-gesekkan putingnya yang mungil ke puting susu Frieska hingga jadi sama-sama menegang.

Icha benar-benar terangsang dengan perbuatannya, cairan-cairan kelembaban dari lorong kewanitaannya mulai menetes dan bergulir lurus di sepanjang pahanya yang putih mulus. Seluruh tubuhnya juga mulai bergetar penuh antisipasi, terlebih saat ia membayangkan betapa lezatnya jika bisa meletakkan kepala di antara kedua paha Frieska dan mulai menjilati kemaluan gadis itu.

Maka Icha segera membuka paha Frieska, lalu dengan kedua jarinya ia pisahkan kedua bibir vagina gadis itu dan mulai menerobos untuk mengaduk-ngaduknya beberapa saat hingga membuatnya jadi begitu basah dan lengket. “Akan kuberi kamu kesenangan seperti yang biasa kamu lakukan bersama para pemuda bangsat itu!” bisik Icha sambil memamerkan jemarinya yang basah kepada Frieska.

Frieska hanya bisa menatapnya tanpa berkedip. Icha kini menjilati jari-jemarinya yang berlumuran cairan kewanitaan dengan penuh rasa suka seraya berkata, “Oooh, bau kamu betul-betul sedap, Fries!”

Meski merasa ganjil, Frieska berusaha untuk tersenyum saat mendengarnya. Dan ia kembali merintih begitu Icha mulai menelusurkan ciumannya ke sepanjang kaki Frieska yang jenjang. Mulai dari telapak kaki hingga ke betis, lalu naik ke lutut dan terus merambat hingga ke paha. Disana Icha menjilat-jilat rakus untuk beberapa saat hingga sedikit membuat Frieska menggelinjang-gelinjang dalam ikatannya. Dan ciuman Icha tiba-tiba berhenti begitu sampai di depan selangkangan Frieska yang terlihat juga mulai basah.

“Ini yang paling aku sukai dari tubuhmu, Fries!” kata Icha sambil mulutnya mulai menjilat dan mengecup lembut belahan kewanitaan Frieska.

”Auw!!” meski berusaha untuk menahan, tak urung Frieska jadi melenguh juga. Bisa dirasakannya kecupan-kecupan Icha yang mengitari bibir kelaminnya, menghisap kuat klitorisnya sambil sesekali menggigit dan menjepitnya gemas hingga membuat hingga Frieska jadi semakin lantang membuka suara.

”Cha… jangan! Geli!” rintihnya dengan pinggul berputar-putar. Frieska memejamkan matanya dan merasakan cairan kental semakin banyak mengalir membasahi lorong kewanitaannya, bercampur dengan air liur Icha yang semakin lama terasa menghisap semakin kuat.

Akibatnya, tak membutuhkan waktu lama, kewanitaan Frieska sudah berkedut cepat dan beberapa detik kemudian menyemprotkan segala isinya yang langsung membasahi wajah dan rambut Icha. Icha menerimanya dengan senang hati, dihisapnya semua cairan itu dan ditelannya tanpa ada yang tersisa sedikitpun. Bahkan yang berceceran di lantai pun juga ia jilati hingga bersih. Dengan mulut kotor dan basah, Icha kemudian menoleh dan menyeringai kepada Frieska, persis seperti orang gila.

Frieska jadi bergidik saat melihatnya. Kenikmatan orgasme yang baru saja ia rasakan langsung menghilang begitu saja.

”Sekarang giliranku,” kata Icha sambil melangkah mendekat. Ia kemudian menyodorkan pinggulnya ke depan Frieska, memberikan belahan vaginanya yang sudah merekah sempurna kepada gadis itu.

Tanpa perlu disuruh, Frieska sudah mengerti apa yang harus ia lakukan. Dengan lidahnya ia mulai membelah labia Icha dan menghirup aromanya yang manis dalam-dalam. Keharuman kelamin Icha terasa menyengat inderanya. Aroma itu jauh lebih terasa dibandingkan dengan bau cairannya sendiri. Bibir dalam dari kemaluan Icha yang berwarna merah muda menyelinap keluar, dan sekresi kewanitaannya menjadikan bibir tersebut benar-benar kontras dengan bibir luar kemaluannya yang berwarna merah gelap.

Perlahan Frieska menarik kulit pelindung kelentit Icha, menjadikan klitorisnya yang bengkak mencuat keluar, yang segera ia colek dengan menggunakan ujung lidahnya.

“Auw! Eat me, please…” rintih Icha tak sabar sambil mendorong pinggulnya semakin mendekat ke muka Frieska.

Frieska bisa merasakan kelentit Icha telah jadi mengeras dalam hisapannya. Terus ia mainkan tonjolan mungil itu hingga membuat Icha semakin kuat menggerakkan pinggulnya. Lorong vaginanya juga telah benar-benar basah. Icha terus merintih dan menjerit-jerit menerima setiap jilatan Frieska pada bibir vaginanya. Pinggulnya bergerak semakin cepat hingga membuat pipi, hidung dan mulut Frieska jadi basah berlumuran oleh cairan kewanitaannya.

“Fries, oughh!!” pekik Icha saat lidah Frieska mulai menelusur di sepanjang garis kelaminnya. Dengan pintar Frieska membuka dan mengecup tempat-tempat paling sensitif di lorong kewanitaan Icha. Sebagai sesama perempuan, tentu ia sangat paham dimana Icha membutuhkan sentuhan.

Icha merenggangkan pahanya semakin lebar, dinding-dinding lorong kemaluannya tampak bergerak-gerak membuka dan menutup seiring jilatan Frieska yang kini menjadi semakin cepat. Frieska menghisap dan menjilat bagaikan seorang ahli. Icha jadi bertanya-tanya, benarkah ini yang pertama bagi gadis itu? Ia jadi ragu, jangan-jangan Frieska memiliki sisi lesbian sama seperti dirinya.

Namun belum sempat ia berpikir lebih jauh, jilatan Frieska yang begitu nikmat sudah keburu mengantarnya ke sebuah puncak orgasme yang terasa begitu luar biasa. Tubuh Icha bergetar hebat, ia bagai tersapu oleh gelombang kenikmatan saat cairan kewanitaannya memancar keluar membasahi wajah dan tubuh Frieska.

Untuk beberapa saat Icha berusaha untuk mengatur nafas, sebelum akhirnya ia turun dari muka Frieska dan berjalan sedikit menjauh. Ekspresi nikmat yang sempat mampir di wajah cantiknya perlahan sirna, digantikan oleh rona kaku yang kembali membuat Frieska jadi bergidik takut.

”Nah sekarang,” Icha mulai berkata, ”Frieska sayang, setelah kuberi kenikmatan, sekarang saatnya kamu merasakan apa yang aku rasakan saat dirimu mencari kenikmatan sesaat bersama para pemuda busuk itu,” ujarnya.

Frieska merasakan dingin logam kembali meliuk menyentuh kulit tubuhnya, berawal dari lutut hingga berakhir di pangkal pahanya. “AAAARGHHH!” teriak Frieska saat merasakan sakit menjalar dari pangkal pahanya hingga ke lututnya. “Apa yang kau lakukan?” teriaknya kepada Icha sambil menahan sakit.

“Bukankah sudah aku bilang tadi, kamu akan merasakan apa yang aku rasakan saat kamu bersama binatang-binatang jantan itu.” Icha menyeringai seram.

“HENTIKAN!” teriak Frieska sekeras-kerasnya saat rasa sakit itu mulai bertambah, bahkan sekarang sudah pindah ke paha kirinya. Rasa sakit itu dirasakan Frieska seperti sebuah sayatan dari pangkal paha sampai ke lutut.

“HENTIKAN!” Frieska berteriak, mengumpat, dan berbagai ekspresi mengutuk lainnya saat rasa sakit itu mulai naik ke atas. Sekilas, ia merasakan rasa dingin mengiris sebelum sakit itu datang pada permukaan kulitnya. Pisau Icha mengiris dangkal sehingga hanya rasa sakit saja yang didapatkan Frieska.

Sayatan dingin itu perlahan-lahan naik ke atas, melewati perut, kedua dada Frieska yang menonjol indah, lehernya, hingga ke wajahnya yang cantik. Saat sayatan dingin itu mencoret-coret wajahnya, Frieska sudah tidak bisa lagi berteriak, hanya tubuhnya yang meronta-ronta kesakitan.

Setelah itu, pisau itu berhenti, tetapi rasa sakit yang ditinggalkannya masih menetap di kulit Frieska. Tubuh Frieska yang telanjang tampak basah oleh keringat, dan juga darah segar. Sementara air mata yang tak henti-hentinya keluar dari matanya, menetes deras menuruni pipinya. Frieska duduk lemas di kursinya, dengan rasa sakit yang berusaha ditahannya.

“Frieska sayang, aku akan tunjukkan padamu apa yang sebenarnya tubuhmu rasakan saat disentuh para laki-laki bejat itu,” Icha berbisik parau.

“AAAAARGHHHK!” teriak Frieska lagi saat tangan Icha membelai pipinya yang terluka dengan tiba-tiba. Tangan itu basah dan saat menyentuh pipi Frieska, tangan itu seperti menambah kepedihan yang sangat luar biasa pada lukanya, seakan-akan tangan Icha seperti garam cair yang menusuk-nusuk kulit Frieska yang terluka.

“Inilah yang sebenarnya tubuhmu rasakan saat disentuh tangan laki-laki, Fries,” Icha berujar. “Begitu juga hatiku saat itu.” tambahnya dingin.

”Lalu apa yang kamu inginkan? Aku sudah memenuhi permintaanmu, jadi lepaskanlah aku!” teriak Frieska saat merasakan tangan Icha yang menambah sakit pada lukanya itu mulai meraba ke bawah dan menyapu setiap luka pada kulit tubuhnya.

Frieska tidak bisa berteriak lagi, rasa sakit dari luka itu ditambah dengan belaian tangan Icha yang menambah nyeri telah menguras habis tenaganya. Dia hanya dapat meronta dan meronta. Nafasnya mulai tersengal-sengal saat tangan Icha meraba kedua pahanya. Rasa nyeri yang luar biasa itu sangat dahsyat menyerang kulit paha Frieska yang telah penuh dengan luka.

“Aku tidak pernah rela mereka menyentuhmu, Fries. Sedetikpun tidak rela.” bisik Icha sambil menyeringai buas. Terpancar sorot mata penuh kebencian di pandangannya yang gila.

“Tidak… Cha… aku mohon…,” ujar Frieska lemas. “Aku mohon… hentikan…”

“Tidak, Fries, aku sebagai orang yang selalu mencintaimu… Benar-benar mencintaimu dan berpikir akan memilikimu suatu hari nanti, harus menunjukkan kebenaran sejati kepadamu!” ujar Icha lalu mulai menurunkan pisaunya ke arah selangkangan Frieska.

“Hentikan… Cha…” ujar Frieska memohon dengan tenaga lemah.

Tetapi Icha seperti tidak mendengar permohonan Frieska yang hampir tidak bersuara itu. Dia mengarahkan pisaunya pada celah mungil berwarna merah di selangkangan Frieska, dan mulai mengoyaknya secara perlahan-lahan.

”AUW!!! AARRGHHHH…!!!” Frieska menjerit keras, namun sama sekali tidak melawan ataupun berbuat apa-apa. Tampak darah segar mulai mengalir membasahi kulit pahanya. Rasa sakit dan nyeri begitu terasa saat Icha semakin lebar menyayat dinding lorong vaginanya.

Namun secepat datangnya, begitu juga saat Icha tiba-tiba menghentikan kegiatannya. Frieska sedikit bernafas lega, namun rasa sakit masih tetap mendera tubuh telanjangnya. Terutama di alat kelaminnya yang kini sudah koyak begitu parah. Sepertinya nanti akan butuh banyak jahitan. Itupun kalau ia sempat menyelamatkan diri karena dilihatnya Icha sekarang berjalan pelan ke arah sebuah meja panjang.

Frieska mulai mengenali ruangan dimana ia disekap. Ruangan yang sedikit sempit ini adalah gudang sekolah lama yang berada jauh di belakang bangunan sekolah. Gudang itu sudah lama tidak dipakai dan ditinggalkan begitu saja. Tetapi sebelum Frieska berpikir untuk berteriak ataupun kabur dari tempat itu, tiba-tiba dia diguyur dengan cairan yang berbau sangat khas oleh Icha. Bensin. Icha menyiramnya dengan bensin!

Frieska menatap tak percaya saat Icha juga menyiram tubuhnya dengan cairan itu. “Maaf, Frieska sayang,” ujar Icha setelah selesai menyiram tubuhnya. “Aku tidak sanggup membagi tubuhmu dengan orang lain. Hanya aku yang boleh memilikinya. Hanya aku, yang terakhir dan juga satu-satunya.”

“Apa… maksud…” Frieska tak sanggup meneruskan kata-katanya.

“Frieska sayang,” ujar Icha sambil mengambil korek api dari atas meja. “Kita akan selalu bersama setelah ini… di neraka!”

Dengan tersenyum, Icha mengambil satu batang korek api dan menyalakannya.

Author: 

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts