Cerita Sex Laut Biru 3

Cerita Sex Laut Biru 3by on.Cerita Sex Laut Biru 3Laut Biru 3 01.33 WIB Laks. Sihombing sudah akan melangkah menuju ruangannya saat melihat seorang wanita melintas di belakangnya. Itu Kolonel Frida, terlihat dari body-nya yang aduhai dan rambut lurusnya yang terurai hingga ke pundak. Wanita itu menghampirinya sambil tersenyum. “Senyum yang selalu menggoda,” pikir Laks. Sihombing dalam hati, hingga ia sejenak terdiam bagai patung. […]

Cerita sex3

Laut Biru 3

01.33 WIB

Laks. Sihombing sudah akan melangkah menuju ruangannya saat melihat seorang wanita melintas di belakangnya. Itu Kolonel Frida, terlihat dari body-nya yang aduhai dan rambut lurusnya yang terurai hingga ke pundak. Wanita itu menghampirinya sambil tersenyum.

“Senyum yang selalu menggoda,” pikir Laks. Sihombing dalam hati, hingga ia sejenak terdiam bagai patung. Tapi biji matanya berjalan dari atas ke bawah, memperhatikan Kol. Frida yang mempunyai kaki begitu panjang dan indah.

“Ada kesulitan, Laksamana?” tanya perempuan cantik itu.

”Ah tidak, hanya sekedar wawancara singkat.” jawab Laks. Sihombing.

“Aku harap orang-orang pers itu tidak merepotkan anda…” Frida kembali berkata.

“Tidak, kebetulan saya kenal suami dari sang reporter…” Laks. Sihombing teringat cincin kawin Lucia yang dititipkan kepadanya, dia segera merogoh kantongnya untuk memastikan benda itu tidak hilang.

”Lucia? Keras kepala sekali dia, sama sekali tidak mau mematuhi perintah.” Frida mendengus.

”Sebenarnya dia baik, mungkin jiwa pers-nya yang membuat dia jadi berbuat nekad seperti itu.” bela Laks. Sihombing.

Kesunyian memecahkan pembicaraan mereka sejenak… hingga kemudian, “Tapi ngomong-ngomong, dia cantik lho. Laksamana tidak tertarik?” kata Frida menggoda.

”Ah… dia kan istri teman baikku, mana berani aku berbuat seperti itu. Lagian, lebih cantik anda kok!” sahut Laks. Sihombing tersenyum.

Wajah cantik Frida bersemu merah mendengarnya. ”Ah, Laksamana bisa aja.”

”Beneran! Kalau disuruh memilih, saya akan pilih Kolonel daripada Lucia!” sergah Laks. Sihombing.

”Tentu saja, soalnya yang ada di hadapan Laksamana sekarang cuma aku. Coba kalau…”

”Ayo ke ruanganku, akan kubuktikan ucapanku!” potong Laks. Sihombing cepat sambil mengamati rambut pendek Frida yang menari-nari tertiup angin.

“Boleh deh…” jawab Frida singkat. Entah kenapa, dia yang biasanya tegas dan lugas, malam ini jadi nakal, rasanya seperti arus birahi menggigit seluruh persendiannya. Apa karena pengaruh hawa dingin air laut ya?

“Silakan masuk, maaf berantakan.” kata Laks. Sihombing sambil menarik tangan Frida yang halus dan putih bersih. Mereka masuk ruangan secara beriringan. Pintu segera ditutup dan dikunci dari dalam, begitu juga dengan jendela dan tirainya. AC lekas dinyalakan dan di-set di temperatur minimum.

Laks. Sihombing berbalik dan tersenyum, begitu juga dengan Frida. Tanpa berkata lagi, mereka berdiri saling berhadapan dan saling menatap mesra. Dengan lembut Laks. Sihombing membelai rambut Frida yang halus lurus terurai, ia teruskan belaiannya ke wajah Frida yang oval, terlihat ada rasa rindu serta keinginan untuk melakukan persetubuhan yang paling pekat di mata perempuan cantik itu. Laks. Sihombing melanjutkan belaiannya menyusuri pundak Frida, ia memegangi dan mengelusnya pelan. Si Kolonel cantik diam saja diperlakukan demikian, malah dia menatap Laks. Sihombing dengan pandangan sayu penuh kemesraan.

“Ohh… Laks!” desah Frida lirih sambil memejamkan matanya, isyarat meminta untuk dicium.

Laks. Sihombing menatap bibir yang berwarna merah muda itu. Sambil mendekap tubuh montok Frida, dengan lembut ia mendekatkan kepalanya dan mengecup pelan bibir Frida yang tipis menggoda. Tak disangka, Frida membalas dengan menjulurkan lidahnya ke dalam mulut sang Laksamana dan memainkannya dengan lihai. Laks. Sihombing segera mencucup dan melumatnya penuh nafsu, berusaha mengimbanginya sebaik mungkin. Sambil mencium, tangannya dengan terampil meloloskan kancing baju Frida satu per satu hingga tak lama kemudian, kain seragam itupun jatuh ke lantai.

Kini hanya BH ukuran 36B dengan tali di pundak yang ada di hadapan Laks. Sihombing, siap untuk dimangsa. “Ahh… ouh… Laksamana… beri aku kepuasan!!” terdengar suara Frida meminta dengan pasrah, juga degupan jantungnya yang berdetak keras, disertai dengan nafas yang mulai terengah-engah pelan.

Dengan cepat Laks. Sihombing membuka BH tipis yang berwarna putih itu. Wow, indah sekali buah dada yang terpampang di hadapannya ini. Benda itu terlihat begitu menonjol ke depan, dengan puting kecil berwarna kemerahan bertengger di puncaknya, dan dikelilingi aerola yang kecil pula dan penuh dengan kehangatan.

“Ouh… Laksamana… hisap, cepat hisap… ough!” pinta Frida memelas sambil menyorongkan kedua payudaranya ke mulut Laks. Sihombing.

Dengan rakus Laks. Sihombing langsung melahap dua gunung kembar yang putih dan kenyal itu. Ia menghisap dan menjilatinya begitu liar hingga membuat Frida merintih kegelian, namun terlihat begitu menikmatinya. ”Terus, Laksamana… yah, hisap terus… ough!” rintih perempuan cantik itu.

Kemontokan dan kehangatan payudara Frida membuat kemaluan Laks. Sihombing menegak begitu cepat. Meski masih tersembunyi di balik celana, tapi benda itu sudah menggedor-gedor kuat, seperti sudah tidak sabar untuk meloncat keluar. Merasa ngilu, Laks. Sihombing segera mencopot celananya, juga baju seragam dan singletnya hingga kini ia pun telanjang bulat. Penisnya yang sudah menegak dahsyat lekas diberikannya pada Frida, meminta untuk dipijit dan dikocok, sementara dia sendiri semakin gencar melancarkan serangan ke seluruh tubuh Frida yang mulus dan kencang.

Laks. Sihombing meremas gemas buah dada Frida yang sebelah kiri, sedang yang kanan ia jilati dengan penuh nafsu. Putingnya yang mungil ia cucup berulang kali, sambil sesekali menjepit dan menariknya dengan ujung lidah. Frida melenguh, tubuh montoknya kontan bergetar dan menggelinjang, apalagi saat sambil terus menghisap, Laks. Sihombing juga memeluk dan mengelus-elus punggung hingga pantatnya, berusaha melepas celana Frida yang masih menempel ketat.

Saat Laks. Sihombing sudah berhasil memelorotkan celana itu, Frida pun mendengus keenakan dan membuang kepalanya ke belakang, otomatis buah dadanya yang besar makin kelihatan membusung ke depan, semakin menampakkan keindahan dan kemontokannya yang begitu luar biasa. “Terus, Laksamana… ough… lepas juga celana dalamku! Kita sama-sama telanjang!” rintih Frida sedikit memaksa.

Perlahan Laks. Sihombing memelorotkan celana dalam Frida yang tipis berwarna putih, dan tanpa perlu dikomando, ia telah membenamkan kepalanya di liang kewanitaan Frida yang tersembunyi malu-malu di balik bulu-bulu halusnya yang lebat tak terkira. ”Ohh… honey, please… jilat yang keras di situ… ouh!!” Frida yang sepertinya kurang bebas, segera membuka kakinya lebar-lebar untuk menyerahkan lubang kenikmatannya yang telah menganga agar segera dijilat oleh Laks. Sihombing.

“Ssh… sluurp… sluurpp…” penuh gairah, laki-laki itu membungkuk untuk terus menjilati klitoris Frida yang nangkring di depan pintu guanya, yang kelihatan misterius namun penuh dengan kenikmatan.

“Ough… terus, Laksamana… ehmm…” Frida mendesah dan… seerr! Cairan kenikmatan cepat membanjiri liang kewanitaannya yang sempit dan legit itu, membuat Laks. Sihombing semakin mudah meluncurkan lidahnya di sekitar klitoris Frida sambil sesekali memasukkannya ke dalam celahnya yang gelap gulita.

”Aduh, Laksamana… aku geli… aduduh!!” Frida menggelinjang kegelian, ia mulai memutar-mutar pantatnya yang bahenol seirama dengan jilatan Laks. Sihombing yang semakin lincah menari-nari. Frida juga menarik-narik rambut Laks. Sihombing dengan gemas, bagai seorang wanita yang sudah lama menantikan kenikmatan hubungan seks.

“Oohh… honey, cepat masukkan punyamu!” pinta Frida tak sabar sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan menjulurkan pantatnya ke belakang dengan kaki mengangkang lebar. Ia meminta Laks. Sihombing agar segera menusuknya dari belakang.

Menggesek-gesekkan penisnya ke belahan pantat Frida, Laks. Sihombing memeluk perempuan cantik itu dengan mesra. Tangannya meraih payudara Frida yang menggantung indah di depan dadanya dan meremas-remasnya gemas. Sementara di belakang, ujung penisnya mulai menyundul-nyundul mencari celah kemaluan Frida yang terasa hangat dan basah, saat sudah ketemu, ia pun menekannya. Sleeeb… dengan mudah batang penisnya menembus lorong gelap yang lembut namun terasa sangat ketat itu.

“Ouhh… nikmat sekali, Laks… terus perlahan… ahh!!” Frida memohon lirih, diputar-putarkan pantatnya ke kiri dan ke kanan hingga hingga rasa geli menyelimuti penis Laks. Sihombing yang kini mulai bergerak keluar masuk mengocok lubang sempitnya.

Laks. Sihombing sendiri semakin mengganas tatkala mendengar desahan Frida yang tiada henti. Sambil terus memompa dari belakang, tak bosan-bosan tangannya memijit dan meremas-remas bulatan payudara Frida yang bergoyang-goyang indah seiring tusukannya yang semakin lama menjadi semakin cepat, juga sedikit lebih dalam.

“Oughh… ahh… lebih cepat, Laks… yang keras! Ooughh…” jerit Frida saat klimaks mulai merambati tubuh mulusnya. Seerr… terasa cairan hangat mengguyur penis Laks. Sihombing yang terus bergerak keluar masuk dengan cepat. Bunyi clep-clep yang tadi terdengar pelan, kini menjadi sangat keras, tanda kalau liang surga milik Kolonel Frida sudah sangat becek dan basah.

Sedikit gemetar, Frida menjemput orgasmenya. Cairan kenikmatan semakin banyak memenuhi liang rahimnya. Laks. Sihombing yang mengetahui hal itu segera mencabut penisnya, dibiarkannya cairan kenikmatan Frida menyembur keluar hingga meleleh di lantai. Duduk terengah-engah, Frida meringkuk lemas di sofa. Dia terlihat pucat namun sangat puas. Laks. Sihombing menghampiri dan memberikan penisnya yang masih menegang pada perempuan cantik itu. Tidak memberi waktu bagi Frida untuk istirahat, ia menyuruh Frida untuk mengulum dan menghisapnya.

”Iya, baik!” tidak bisa menolak, Frida pun langsung melahap kemaluan itu dan menghisapnya dengan begitu rakus. Sesekali ia julurkan lidahnya untuk menjilati biji kemaluan Laks. Sihombing, juga lubang anus laki-laki itu yang membuat Laks. Sihombing menggelinjang kegelian.

Setelah puas memainkan penis itu, Frida yang kembali bergairah, meminta Laks. Sihombing untuk kembali mengoral vaginanya. Mereka kini berposisi 69, Frida di atas sementara Laks. Sihombing di bawah. Frida menempatkan liang kewanitaannya tepat di depan mulut Laks. Sihombing, sementara ia sendiri terus melahap kemaluan Laks. Sihombing yang kini sudah menegak keras tak terkendali.

Mereka terus saling menghisap satu sama lain sampai akhirnya Frida membenamkan pantatnya kuat-kuat sambil digoyang-goyangkan dengan cepat karena semakin geli oleh jilatan lidah Laks. Sihombing yang menusuk-nusuk semakin dalam. “Ouhh… Laksamana… masukkan sekarang… aku udah nggak tahan nih…” Frida mengeluh penuh kenikmatan.

Tanpa merubah posisi, dengan masih berjongkok, Frida langsung menangkap kemaluan laki-laki itu dan menuntunnya masuk ke dalam lubangnya yang sudah sangat basah, campuran antara madzi dan air liur Laks. Sihombing. Sleebb… perlahan ia menurunkan tubuhnya sambil memegang dada Laks. Sihombing yang berbulu lebat. Terlihat mata Frida merem-melek keenakan sambil menggigit bibirnya yang mungil saat penis itu Laks. Sihombing sudah tenggelam sepenuhnya ke celah liang vaginanya.

“Aahh…” Frida mendesah begitu merasakan kenikmatan yang tiada tara menyerang tubuh sintalnya. Ia mulai menggerakkan pantatnya naik turun, dan semakin lama menjadi semakin cepat. Suara keras akibat benturan pantat Frida dengan paha Laks. Sihombing, kini kembali bergema di ruang yang tidak seberapa besar itu. Sambil sesekali ditingkahi teriakan Frida yang meminta ampun merasakan nikmat gesekan kemaluan Laks. Sihombing dengan liang kewanitaannya.

“Laks, arghh… aku mau keluar lagi,” rintih perempuan cantik itu. Di depan dadanya, tangan Laks. Sihombing bergerak pelan meremas-remas payudaranya yang bulat dan besar.

”Aku juga bentar lagi, Kolonel… kita sama-sama yah?” balas Laks. Sihombing dengan suara sedikit gemetar menahan rasa nikmat yang menggunung. Dengan dua jari ia jepit puting Frida yang menonjol indah dan dipilin-pilinnya mesra.

“Uughh… honey, aku sudah nggak tahan… ayo, sayang… lebih cepat, lebih cepat lagi, sayang… oughh!!” Frida berteriak keras sambil menghentakkan pinggulnya kuat-kuat, membuat penis Laks. Sihombing menancap makin dalam di liang vaginanya, bahkan serasa menembus hingga ke mulut rahimnya.

Tak sampai satu detik, tubuh perempuan cantik itupun bergetar dan… seer, seer, seer, cairan kewanitaannya membanjir keluar membasahi lubang vaginanya yang sempit, bercampur dengan sperma Laks. Sihombing yang menyusul tak lama kemudian. Frida langsung terkulai lemas, tubuhnya ambruk terbaring dalam keadaan telanjang bulat di atas dada Laks. Sihombing, sungguh indah dan mulus sekali. Laks. Sihombing segera memeluknya mesra, terasa liang senggama perempuan cantik itu masih kembang kempis memijit batang penisnya yang kini mulai melemas secara perlahan-lahan.

“Terima kasih, Kolonel, sudah memberi kepuasan kepadaku.” ucap Laks. Sihombing di telinga Frida.

”Sama-sama, Laks… aku juga puas sekali!” sahut Frida sambil bangkit dan turun dari sofa. Ia lalu memunguti pakaiannya dan mulai mengenakannya kembali.

”Mau kemana?” tanya Laks. Sihombing, tampak sedikit keberatan.

”Mereka pasti sudah siap sekarang, aku mau melihat sebentar.” Frida mengaitkan kancing BH-nya, dibiarkannya tangan Laks. Sihombing yang mengelus-elus paha mulusnya karena ia memang belum mengenakan celana.

”Tinggallah sebentar, kamu tidak ingin mengulanginya lagi?” dengan dua jarinya, Laks. Sihombing mencolek lubang kewanitaan Frida. Dia mendapati ada sperma dan cairan bening lengket di lorongnya yang sempit.

”Auw! I-itu bisa ditunda, Laks. Aku pasti kembali.” Frida menyingkirkan tangan laki-laki itu. Lalu setelah mengenakan celana dan meyakinkan kalau bajunya sudah rapi, iapun pergi meninggalkan ruangan.

”Jangan lupa, kutunggu disini.” seru Laks. Sihombing sebelum Frida menutup pintu. Wanita itu cuma memberinya senyuman sebagai jawaban.

***

Author: 

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts